08 December 2008

तोबत्न्य सोरंग psk

Shelley Luben mantan aktris porno mengaku bisa keluar dari dunia gelap bernama 'industri pornografi’ dan memilih menjadi aktivis melawan ekploitasi seksual terhadap gadis-gadis muda Amerika

Hidayatullah. com--Gadis cantik, bertubuh seksi dan mata yang membangkitkan gairah seakan-akan berkata "i want You". Itu kesan yang terlihat di setiap sampul film porno. Tapi, bisa jadi itulah tipuan terbesar sepanjang masa.
Inilah kisah dan pengakuan Shelley Luben tentang masa buruk dan seluk beluk industri maksiat itu. Tulisan ini diturunkan sebagai pelajaran bagi kita semua. Terutama para aktivis yang “menurut mata” terhadap dampak industri pornografi.
Percayalah, Aku tahu
“Aku dulu pernah melakukannya sepanjang waktu dan aku melakukannnya karena.
Nafsuku akan kekuasaan dan kecintaanku kepada uang.. Aku
tidak pernah menyukai seks. Bahkan Aku tidak menginginkannya dan faktanya aku lebih banyak minum Jack Daniels (jenis minuman alkohol import original. Sejenis Jhonny Walke yang juga masuk Indonesia, red) daripada bersama para pria yang dibayar seperti aku untuk "berpura-pura" di film.
Ya Benar tidak ada diantara kami –gadis-gadis blonde yang menyukai being in porn movie. Kami benci disentuh oleh orang asing yang sama sekali tidak peduli dengan kami. Kami benci dianggap rendah oleh mereka, laki-laki dengan keringat dan bau busuknya. Beberapa diantara kami sering sampai muntah di kamar mandi saat break syuting. Sedangkan yang lainnya berusaha menenangkan diri dengan merokok Marlboro tanpa henti.
Tapi porn industry (industri pornografi) ingin agar kamu selalu berpikir kalau kami artis porno sangat menyukai seks. Mereka ingin kamu percaya bahwa kami senang dilecehkan seperti binatang dalam berbagai jenis adegan di film.
Kenyataannya, artis
porno sering tidak tahu apa saja adegan yang akan mereka lakukan saat pertama kali datang ke lokasi syuting dan kami hanya diberi dua pilihan oleh produser: "Lakukan atau Pulang Tanpa Bayaran. Kerja atau tidak akan bisa kerja lagi."
Iya memang benar kami punya pilihan.
Beberapa diantara kami memang sangat memerlukan uang. Tapi kami dimanipulasi, dipaksa bahkan diancam.
Beberapa diantara kami terjangkit AIDS karena profesi ini. Atau tertular herpes dan berbagai macam penyakit kelamin lain yang sukar disembuhkan. Salah seorang artis film porno setelah syuting dengan menahan sakit sepanjang hari setelah sampai dirumah menembak kepalanya dengan pistol.
Kebanyakan dari artis porno mungkin berasal dari keluarga yang berantakan dan pernah mengalami pelecehan seksual dan perkosaan dari keluarga atau tetangganya sendiri. Saat kami kecil kami hanya ingin bermain dengan boneka, bukan mendapatkan trauma saat seorang laki-laki dewasa berada diatas
tubuh kami.
Jadi sejak kecil kami belajar bahwa seks bisa membuat kami berharga. Dan dengan semua pengalaman mengerikan itu kami menipu kalian di depan kamera padahal sebenarnya kami membenci di setiap menitnya.
Karena trauma itu kebanyakan artis porno hidupnya tergantung kepada alkohol dan narkotika. Dan hidup kami juga selalu diliputi ketakutan akan terjangkit HIV atau penyakit kelamin lainnya seperti; Herpes, gonorrhea, syphilis, chlamydia, dll. setiap hari menghantui kami.
Menurut catatan Shelley dalam situs web nya. Sebelas bintang pornografi pornografi mati akibat HIV, bunuh diri, pembunuhan dan obat pada tahun 2007. Antara 2003 dan 2005, 976 orang pemain dilaporkan dengan 1.153 hasil positif STD. 66% dari pemain pornografi terkena Herpes, penyakit yang tak dapat disembuhkan.
Memang setiap bulan kami diperiksa tapi kamu tahu, kalau hal tersebut tidak akan bisa mencegah kami tertular penyakit-penyakit mematikan itu. Selain penyakit,
adegan syuting tidak kalah mengerikannya, banyak dari kami mengalami luka sobek atau luka pada organ tubuh bagian dalam kami.
Diluar syuting kami sering berharap bisa menjalani hidup yang normal. Tapi sangat sulit menjalin hubungan yang normal dengan laki-laki ‘biasa’, maka dari itu kebanyakan dari kami menikah dengan sutradara film porno atau menjalani hidup sebagai lesbian.
Buat aku, momen yang tidak akan terlupakan adalah ketika tanpa sengaja anak perempuanku melihat ibunya yang telanjang sedang berciuman dengan gadis lain. Anakku pasti akan terus mengingatnya juga.
Pada hari yang lain kami bisa berubah seperti zombie dengan botol bir di tangan kanan dan gelas wisky di tangan kiri. Kami tidak suka bersih-bersih jadi sering kali kami harus menyewa pembantu untuk membersihkan kotoran kami. Selain itu artis porno benci memasak sendiri. Biasanya kami memesan makanan yang kemudian kami muntahkan lagi karena kebanyakan dari kami menderita
bulimia, semacam gejala lapar yang tidak pernah terpuaskan.
Bagi artis porno yang memiliki anak, kami adalah ibu yang paling buruk. Kami menjerit dan bahkan memukul anak kami tanpa alasan. Seringkali saat kami begitu mabuknya sampai-sampai anak kami yang berumur 4 tahun yang menyeret kami dari lantai. Dan ketika ada tamu (kebanyakan karena alasan seks) kami harus mengunci anak kami terlebih dulu dikamar dan menyuruh mereka untuk diam.
Kalau aku biasa membekali anak gadisku dengan pager dan kusuruh dia menungguku di taman sampai aku selesai dengan tamuku.”
Semua Tipuan...
“Kalau kamu bisa melihat lebih dalam kehidupan artis film porno mungkin kamu akan kehilangan minat menonton film porno. Kenyataan sebenarnya kami artis film porno ingin mengakhiri semua rasa malu ini dan semua trauma dalam hidup kami. Tapi sayangnya kami tidak bisa melakukannya sendiri.
Kami berharap kalian kaum pria membantu kami, memperjuangkan kebebasan dan
kehormatan kami. Kami ingin kalian memeluk kami saat kami menghapus air mata dan menyembuhkan luka di hati kami. Kami berharap kalian mau berdoa untuk kami dan semoga Tuhan akan mendengar dan mengampuni semua kesalahan kami di masa lalu.
Industri film porno tidak lebih dari “seks palsu” dan “tipuan kamera”. Percayalah…….!
[Kiriman Abidin MA diambil dari situs http://www.shelleyl ubben.com. Tulisan ini didedikasikan oleh Shelley untuk semua aktris pornografi yang terjangkit HIV, meninggal akibat overdosis atau bunuh diri/www.hidayatull ah.com]Torsa Abuhanif

30 November 2008

apakah bener neilarmstrong sampai ke bulan ?

Dahulu waktu saya masih SD,tentang pelajaran IPA disebutkan bahwa manusia yang pertama kali menginnjakkan kaki di bumi adalah neilamstron, waktu itu karena masih kecil ya menurut saja lah :D

Terus seiring dengan perkembangan waktu, setelah liat artikel-artikel, eh mbaca ternyata si neilarmstrong tu nggak pernah bisa nyampe ke bulan. Trus saya pikir lagi :
Masak iya sich ada pesawat yang bisa turun di bulan toh landasannya aja nggak ada
Di bulan kan nggak ada atmosfer, nggak ada tumbuhan, dan ruang hampa, lha kug benderanya berkibar-kibar ?
Terus fotonya aneh, bayangannya nggak normal, seharusnya kan cuman dari satu sumber duank,
Alasan yang lain yaitu, keren banget teknologi jaman dulu, hemmm bisa ngontrol komunikasi sampai ke bulan, lha wong mainframe komputer aja masih 1980 an, itu pun gedhe, hehehehhe

hemm kapan ya manusia bener-bener nggak boong bisa sampai ke bulan ?
kelihatannya nggak mungkin kali ya ?
tapi untuk NASA met berjuang aja, jangan pake boong-boongan tapi, hemm bikin pelajaran SD jadi kacau balau hahahahaha.

20 November 2008

Teriakan Anak Kecil

Mahasiswa Atau Bayi sich ????

Waktu kemarin lusa aku menonton tv bersama dengannya, ku pindah pindah channel tv lalu mendapatkan sebuah channel berita, waktu itu berita nya agak menarik, yaiut tentang tawuran antar mahasiswa.

hemm kami mengamati berita itu dengan cukup serius, lama kelamaan rasa jengkel pun muncul, lalu di berkata (sebenernya dia itu mahasiswa atau bayi sich ??? ), kug ya udah mahasiswa bisa berantem satu kampus dengan kampus lain hanya karena perseteruan kecil, anak-anak SD aja sudah tak berani bertawuran ria seperti itu, paling banter cuman saling berduel (nah kalo ini baru namanya lelaki :D ).

mahasiswa, apa sich alasan kalian kug melakukan tawuran ??
mbok ya jangan cari perkara, kalo generasinya bangsa seperti mahasiswa yang kami tonton di TV gimana entar ???

hemmmmmmm jangan mikir yang enggak-enggak dech yang penting berusaha berbenah diri ya,
buat para mahasiswa yang udah terlanjur jangan diulangin lagi,
ngomong-ngomong apa susahnya sich minta maaf dan memaafkan
maaf ya yang bilang masih anak-anak
jangan hakimi anak kecil ini
terimakasih

-----------------------------------------------------------------------------------------------

14 November 2008

Sedikit Cerita Dari Teman

Ini ada cerita ringan, dialog antara Ust. Yusuf Mansur dengan Security
POM Bensin
Agak panjang, tapi percaya deh enak kok dibacanya ....

SEMOGA BERMANFAAT

Banyak yang mau berubah, tapi memilih jalan mundur. Andakah orangnya?

Satu hari saya jalan melintas di satu daerah.. Tetidur di dalam mobil.
Saat terbangun, ada tanda pom bensin sebentar lagi. Saya pesen ke supir
saya: "Nanti di depan ke kiri ya".
"Masih banyak, Pak Ustadz".

Saya paham. Supir saya mengira saya pengen beli bensin. Padahal bukan.
Saya pengen pipis.

Begitu berhenti dan keluar dari mobil, ada seorang sekuriti.
"PakUstadz!" . Dari jauh ia melambai dan mendekati saya. Saya
menghentikan langkah. Menunggu beliau. "Pak Ustadz, alhamdulillah nih
bisa ketemu Pak Ustadz. Biasanya kan hanya melihat di TV saja...". Saya
senyum aja. Ga ke-geeran, insya Allah, he he he.
"Saya ke toilet dulu ya".

"Nanti saya pengen ngobrol boleh Ustadz?"

"Saya buru-buru loh. Tentang apaan sih?"

"Saya bosen jadi satpam Pak Ustadz".
Sejurus kemudian saya sadar, ini Allah pasti yang "berhentiin" saya.
Lagi enak-enak tidur di perjalanan, saya terbangun pengen pipis. Eh nemu
pom bensin. Akhirnya ketemu sekuriti ini. Berarti barangkali saya kudu
bicara dengan dia. Sekuriti ini barangkali "target operasi" dakwah hari
ini. Bukan jadwal setelah ini. Begitu pikir saya.

Saya katakan pada sekuriti yang mulia ini, "Ok, ntar habis dari toilet
ya".

*******

"Jadi, pegimana? Bosen jadi satpam? Emangnya ga gajian?", tanya saya
membuka percakapan. Saya mencari warung kopi, untuk bicara-bicara dengan
beliau ini. Alhamdulillah ini pom bensin bagus banget. Ada minimart nya
yang dilengkapi fasilitas ngopi-ngopi ringan.

"Gaji mah ada Ustadz. Tapi masa gini-gini aja?"

"Gini-gini aja itu, kalo ibadahnya gitu-gitu aja, ya emang udah begitu.
Distel kayak apa juga, agak susah buat ngerubahnya" .

"Wah, ustadz langsung nembak aja nih".

Saya meminta maaf kepada sekuriti ini umpama ada perkataan saya yang
salah. Tapi umumnya begitu lah manusia. Rizki mah mau banyak, tapi sama
Allah ga mau mendekat. Rizki mah mau nambah, tapi ibadah dari dulu ya
begitu-begitu saja. "Udah shalat ashar?"

"Barusan Pak Ustadz. Soalnya kita kan tugas. Tugas juga kan ibadah, iya
ga? Ya saya pikir sama saja".

"Oh, jadi ga apa-apa telat ya? Karen a situ pikir kerja situ adalah juga
ibadah?"
Sekuriti itu senyum aja.

Disebut jujur mengatakan itu, bisa ya bisa tidak. Artinya, sekuriti itu
bisa benar-benar menganggap kerjaannya ibadah, tapi bisa juga ga. Cuma
sebatas omongan doangan. Lagian, kalo nganggap kerjaan-kerjaan kita
ibadah, apa yang kita lakukan di dunia ini juga ibadah, kalau kita
niatkan sebagai ibadah. Tapi, itu ada syaratnya. Apa syaratnya? Yakni
kalau ibadah wajibnya, tetap nomor satu. Kalau ibadah wajibnya nomor
tujuh belas, ya disebut bohong dah tuh kerjaan adalah ibadah. Misalnya
lagi, kita niatkan usaha kita sebagai ibadah, boleh ga? Bagus malah.
Bukan hanya boleh. Tapi kemudian kita menerima tamu sementara Allah
datang. Artinya kita menerima tamu pas waktu shalat datang, dan kemudian
kita abaikan shalat, kita abaikan Allah, maka yang demikian masihkah
pantas disebut usaha kita adalah ibadah? Apalagi kalau kemudian hasil
kerjaan dan hasil usaha, buat Allah nya lebih sedikit ketimbang buat
kebutuhan-kebutuhan kita. Kayaknya perlu dipikirin lagi tuh
sebutan-sebutan ibadah.

"Disebut barusan itu maksudnya jam setengah limaan ya? Saya kan baru jam
5 nih masuk ke pom bensin ini", saya mengejar.

"Ya, kurang lebih dah".

Saya mengingat diri saya dulu yang dikoreksi oleh seorang faqih, seorang
'alim, bahwa shalat itu kudu tepat waktu. Di awal waktu. Tiada disebut
perhatian sama Yang Memberi Rizki bila shalatnya tidak tepat waktu.
Aqimish shalaata lidzikrii, dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku. Lalu,
kita bersantai-santai dalam mendirikan shalat. Entar-entaran. Itu kan
jadi sama saja dengan mengentar-entarkan mengingat Allah. Maka lalu saya
ingatkan sekuriti yang entahlah saya merasa he is the man yang Allah
sedang berkenan mengubahnya dengan mempertemukan dia dengan saya.

"Gini ya Kang. Kalo situ shalatnya jam setengah lima , memang untuk
mengejar ketertinggalan dunia saja, jauh tuh. Butuh perjalanan satu
setengah jam andai ashar ini kayak sekarang, jam tiga kurang dikit. Bila
dalam sehari semalam kita shalat telat terus, dan kemudian dikalikan
sejak akil baligh, sejak diwajibkan shalat, kita telat terus, maka
berapa jarak ketertinggalan kita tuh? 5x satu setengah jam, lalu dikali
sekian hari dalam sebulan, dan sekian bulan dalam setahun, dan dikali
lagi sekian tahun kita telat. Itu baru telat saja, belum kalo
ketinggalan atau kelupaan, atau yang lebih bahayanya lagi kalau
bener-benar lewat tuh shalat? Wuah, makin jauh saja mestinya kita dari
senang".

Saudara-saudaraku Peserta KuliahOnline, percakapan ini kurang lebih
begitu. Mudah-mudahan sekuriti ini paham apa yang saya omongin. Dari
raut mukanya, nampaknya ia paham. Mudah-mudahan demikian juga
saudara-saudara ya? He he he. Belagu ya saya? Masa omongan cetek begini
kudu nanya paham apa engga sama lawan bicara?
Saya katakan pada dia. Jika dia alumni SMU, yang selama ini telat
shalatnya, maka kawan-kawan selitingnya mah udah di mana, dia masih
seperti diam di tempat. Bila seseorang membuka usaha, lalu ada lagi yang
buka usaha, sementara yang satu usahanya maju, dan yang lainnya sempit
usahanya, bisa jadi sebab ibadah yang satu itu bagus sedang yang lain
tidak.

Dan saya mengingatkan kepada peserta KuliahOnline untuk tidak
menggunakan mata telanjang untuk mengukur kenapa si Fulan tidak shalat,
dan cenderung jahat lalu hidupnya seperti penuh berkah? Sedang si Fulan
yang satu yang rajin shalat dan banyak kebaikannya, lalu hidupnya susah.
Jawaban terhadap pertanyaan-pertanya an seperti ini cukup kompleks. Tapi
bisa diurai satu satu dengan bahasa-bahasa kita, bahasa-bahasa kehidupan
yang cair dan dekat dengan fakta. Insya Allah ada waktunya pembahasan
yang demikian.

Kembali kepada si sekuriti, saya tanya, "Terus, mau berubah?"

"Mau Pak Ustadz. Ngapain juga coba saya kejar Pak Ustadz nih, kalo ga
serius?"

"Ya udah, deketin Allah dah. Ngebut ke Allah nya".

"Ngebut gimana?"

"Satu, benahin shalatnya. Jangan setengah lima -an lagi shalat asharnya.
Pantangan telat. Buru tuh rizki dengan kita yang datang menjemput Allah.
Jangan sampe keduluan Allah".
Si sekuriti mengaku mengerti, bahwa maksudnya, sebelum azan udah standby
di atas sajadah. Kita ini pengen rizkinya Allah, tapi ga kenal sama Yang
Bagi-bagiin rizki. Contohnya ya pekerja-pekerja di tanah air ini.. Kan
aneh. Dia pada kerja supaya dapat gaji. Dan gaji itu rizki. Tapi giliran
Allah memanggil, sedang Allah lah Tuhan yang sejatinya menjadikan
seseorang bekerja, malah kelakuannya seperti ga menghargai Allah. Nemuin
klien, rapih, wangi, dan persiapannya masya Allah. Eh, giliran ketemu
Allah, amit-amit pakaiannya, ga ada persiapan, dan tidak segan-segan
menunjukkan wajah dan fisik lelahnya. Ini namanya ga kenal sama Allah.

"Yang kedua," saya teruskan. "Yang kedua, keluarin sedekahnya".

Saya inget betul. Sekuriti itu tertawa. "Pak Ustadz, pegimana mau
sedekah, hari gini aja nih, udah pada habis belanjaan. Hutang di warung
juga terpaksa dibuka lagi,. Alias udah mulai ngambil dulu bayar
belakangan".

"Ah, ente nya aja kali yang kebanyakan beban. Emang gajinya berapa?"

"Satu koma tujuh, Pak ustadz".

"Wuah, itu mah gede banget. Maaf ya, untuk ukuran sekuriti, yang orang
sering sebut orang kecil, itu udah gede".

"Yah, pan kudu bayar motor, bayar kontrakan, bayar susu anak, bayar ini
bayar itu. Emang ga cukup Pak ustadz".

"Itu kerja bisa gede, emang udah lama kerjanya?"
"Kerjanya sih udah tujuh taon. Tapi gede gaji bukan karena udah lama
kerjanya. Saya ini kerjanya pagi siang sore malem, ustadz".

"Koq bisa?"

"Ya, sebab saya tinggal di mess. Jadi dihitung sama bos pegimana gitu
sampe ketemu angka 1,7jt".

"Terus, kenapa masih kurang?"

"Ya itu, sebab saya punya tanggungan banyak".

"Secara dunianya, lepas aja itu tanggungan. Kayak motor. Ngapain juga
ente kredit motor? Kan ga perlu?"

"Pengen kayak orang-orang Pak Ustadz".

"Ya susah kalo begitu mah. Pengen kayak orang-orang, motornya. Bukan
ilmu dan ibadahnya. Bukan cara dan kebaikannya. Repot".

Sekuriti ini nyengir. Emang ini motor kalo dilepas, dia punya 900 ribu.
Rupanya angsuran motornya itu 900 ribu. Ga jelas tuh darimana dia
nutupin kebutuhan dia yang lain.

Kontrakan saja sudah 450 ribu sama air dan listrik. Kalo ngelihat
keuangan model begini, ya nombok dah jadinya.

"Ya udah, udah keterlanjuran ya? Ok. Shalatnya gimana? Mau diubah?"

"Mau Ustadz. Saya benahin dah".

"Bareng sama istri ya. Ajak dia. Jangan sendirian. Ibarat sendal,
lakukan berdua. Makin cakep kalo anak-anak juga dikerahin.. Ikutan
semuanya ngebenahin shalat".

"Siap ustadz".

"Tapi sedekahnya tetap kudu loh".

"Yah Ustadz. Kan saya udah bilang, ga ada".

"Sedekahin aja motornya. Kalo engga apa keq".

"Jangan Ustadz. Saya sayang-sayang ini motor. Susah lagi belinya.
Tabungan juga ga ada. Emas juga ga punya".

Sekuriti ini berpikir, saya kehabisan akal untuk nembak dia. Tapi saya
akan cari terus. Sebab tanggung. Kalo dia hanya betulin shalatnya saja,
tapi sedekahnya tetap ga keluar, lama keajaiban itu akan muncul.
Setidaknya menurut ilmu yang saya dapat. Kecuali Allah berkehendak lain.
Ya lain soal itu mah.

Sebentar kemudian saya bilang sama ini sekuriti, "Kang, kalo saya
unjukin bahwa situ bisa sedekah, yang besar lagi sedekahnya, situ mau
percaya?". Si sekuriti mengangguk. "Ok, kalo sudah saya tunjukkan, mau
ngejalanin?" . Sekuriti ini ngangguk lagi. "Selama saya bisa, saya akan
jalanin," katanya, manteb.

"Gajian bulan depan masih ada ga?"

"Masih. Kan belum bisa diambil?"

"Bisa. Dicoba dulu".

"Entar bulan depan saya hidup pegimana?"

"Yakin ga sama Allah?"

"Yakin".

"Ya kalo yakin, titik. Jangan koma. Jangan pake kalau".

Sekuriti ini saya bimbing untuk kasbon. Untuk sedekah. Sedapetnya. Tapi
usahakan semua. Supaya bisa signifikan besaran sedekahnya. Sehingga
perubahannya berasa. Dia janji akan ngebenahin mati-matian shalatnya.
Trmasuk dia akan polin shalat taubatnya, shalat hajatnya, shalat dhuha
dan tahajjudnya. Dia juga janji akan rajinin di waktu senggang untuk
baca al Qur'an. Perasaan udah lama banget dia emang ga lari kepada
Allah. Shalat Jum'at aja nunggu komat, sebab dia sekuriti. Wah, susah
dah. Dan itu dia aminin. Itulah barangkali yang sudah membuat Allah
mengunci mati dirinya hanya menjadi sekuriti sekian tahun, padahal dia
Sarjana Akuntansi!

Ya, rupanya dia ini Sarjana Akuntansi. Pantesan juga dia ga betah dengan
posisinya sebagai sekuriti. Ga kena di hati. Ga sesuai sama rencana.
Tapi ya begitu dah hidup.. Apa boleh buta, eh, apa boleh buat. Yang
penting kerja dan ada gajinya.

Bagi saya sendiri, ga mengapa punya banyak keinginan. Asal keinginan itu
keinginan yang diperbolehkan, masih dalam batas-batas wajar. Dan ga
apa-apa juga memimpikan sesuatu yang belom kesampaian sama kita. Asal
apa? Asal kita barengin dengan peningkatan ibadah kita. Kayak sekarang
ini, biarin aja harga barang pada naik. Ga usah kuatir. Ancem aja diri,
agar mau menambah ibadah-ibadahnya. Jangan malah berleha-leha. Akhirnya
hidup kemakan dengan tingginya harga,. Ga kebagian.

*******

Sekuriti ini kemudian maju ke atasannya, mau kasbon. Ketika ditanya buat
apa? Dia nyengir ga jawab. Tapi ketika ditanya berapa? Dia jawab, Pol.
Satu koma tujuh. Semuanya.
"Mana bisa?" kata komandannya.

"Ya Pak, saya kan ga pernah kasbon. Ga pernah berani. Baru ini saya
berani".

Komandannya terus mengejar, buat apa? Akhirnya mau ga mau sekuriti ini
jawab dengan menceritakan pertemuannya dengan saya.

Singkat cerita, sekuriti ini direkomendasikan untuk ketemu langsung sama
ownernya ini pom bensin.. Katanya, kalau pake jalur formal, dapet
kasbonan 30% aja belum tentu lolos cepet. Alhamdulillah, bos besarnya
menyetujui. Sebab komandannya ini ikutan merayu, "Buat sedekah katanya
Pak", begitu kata komandannya.

Subhaanallaah, satu pom bensin itu menyaksikan perubahan ini. Sebab
cerita si sekuriti ini sama komandannya, yang merupakan kisah
pertemuannya dengan saya, menjadi kisah yang dinanti the end story nya.
Termasuk dinanti oleh bos nya.

"Kita coba lihat, berubah ga tuh si sekuriti nasibnya", begitu lah
pemikiran kawan-kawannya yang tahu bahwa si sekuriti ini ingin berubah
bersama Allah melalui jalan shalat dan sedekah.

Hari demi hari, sekuriti ini dilihat sama kawan-kawannya rajin betul
shalatnya. Tepat waktu terus. Dan lumayan istiqamah ibadah-ibadah
sunnahnya. Bos nya yang mengetahui hal ini, senang. Sebab tempat
kerjanya jadi barokah dengan adanya orang yang mendadak jadi saleh
begini. Apalagi kenyataannya si sekuriti ga mengurangi kedisiplinan
kerjaannya..

Malah tambah cerah muka nya.

Sekuriti ini mengaku dia cerah, sebab dia menunggu janjinya Allah. Dan
dia tahu janji Allah pastilah datang. Begitu katanya, menantang ledekan
kawan-kawannya yang pada mau ikutan rajin shalat dan sedekah, asal
dengan catatan dia berhasil dulu.

Saya ketawa mendengar dan menuliskan kembali kisah ini. Bukan apa-apa,
saya demen ama yang begini. Sebab insya Allah, pasti Allah tidak akan
tinggal diam. Dan barangkali akan betul-betul mempercepat perubahan
nasib si sekuriti. Supaya benar-benar menjadi tambahan uswatun hasanah
bagi yang belum punya iman. Dan saya pun tersenyum dengan keadaan ini,
sebab Allah pasti tidak akan mempermalukannya juga, sebagaimana Allah
tidak akan mempermalukan si sekuriti.

Suatu hari bos nya pernah berkata, "Kita lihatin nih dia. Kalo dia ga
kasbon saja, berarti dia berhasil. Tapi kalo dia kasbon, maka
kelihatannya dia gagal. Sebab buat apa sedekah 1 bulan gaji di depan
yang diambil di muka, kalau kemudian kas bon. Percuma".

Tapi subhaanallah, sampe akhir bulan berikutnya, si sekuriti ini ga
kasbon.

Berhasil kah?

Tunggu dulu. Kawan-kawannya ini ga melihat motor besarnya lagi. Jadi,
tidak kasbonnya dia ini, sebab kata mereka barangkali aman sebab jual
motor. Bukan dari keajaiban mendekati Allah.

Saatnya ngumpul dengan si bos, ditanyalah si sekuriti ini sesuatu urusan
yang sesungguhnya adalah rahasia dirinya.

"Bener nih, ga kasbon? Udah akhir bulan loh. Yang lain bakalan gajian.
Sedang situ kan udah diambil bulan kemaren".

Sekuriti ini bilang tadinya sih dia udah siap-siap emang mau kasbon kalo
ampe pertengahan bulan ini ga ada tanda-tanda. Tapi kemudian cerita si
sekuriti ini
benar-benar bikin bengong orang pada.

Sebab apa? Sebab kata si sekuriti, pasca dia benahin shalatnya, dan dia
sedekah besar yang belum pernah dia lakukan seumur hidupnya, yakni
hidupnya di bulan depan yang dia pertaruhkan, trjadi keajaiban. Di
kampung, ada transaksi tanah, yang melibatkan dirinya. Padahal dirinya
ga trlibat secara fisik. Sekedar memediasi saja lewat sms ke pembeli dan
penjual. Katanya, dari transaksi ini, Allah persis mengganti 10x lipat.
Bahkan lebih. Dia sedekah 1,7jt gajinya. Tapi Allah mengaruniainya
komisi penjualan tanah di kampungnya sebesar 17,5jt. Dan itu trjadi
begitu cepat. Sampe-sampe bulan kemaren juga belum selesai. Masih
tanggalan bulan kemaren, belum berganti bulan.

Kata si sekuriti, sadar kekuatannya ampe kayak gitu, akhirnya dia malu
sama Allah. Motornya yang selama ini dia sayang-sayang, dia jual!
Uangnya melek-melek buat sedekah. Tuh motor dia pake buat ngeberangkatin
satu-satunya ibunya yang masih hidup. Subhaanallaah kan ? Itu jual
motor, kurang. Sebab itu motor dijual cepat harganya ga nyampe 13 juta.
Tapi dia tambahin 12 juta dari 17jt uang cash yang dia punya. Sehingga
ibunya punya 25 juta. Tambahannya dari simpenan ibunya sendiri.

Si sekuriti masih bercerita, bahwa dia merasa aman dengan uang 5 juta
lebihan transaksi. Dan dia merasa ga perlu lagi motor. Dengan uang ini,
ia aman. Ga perlu kasbon.

Mendadak si bos itu yang kagum. Dia lalu kumpulin semua karyawannya, dan
menyuruh si sekuriti ini bercerita tentang keberkahan yang dilaluinya
selama 1 bulan setengah ini.

Apakah cukup sampe di situ perubahan yang trjadi pada diri si sekuriti?

Engga. Si sekuriti ini kemudian diketahui oleh owner pom bensin tersebut
sebagai sarjana S1 Akuntansi. Lalu dia dimutasi di perusahaan si owner
yang lain, dan dijadikan staff keuangan di sana . Masya Allah, masya
Allah, masya Allah. Berubah, berubah, berubah.

Saudara-saudaraku sekalian.. Cerita ini bukan sekedar cerita tentang
Keajaiban Sedekah dan Shalat saja. Tapi soal tauhid. soal keyakinan dan
iman seseorang kepada Allah, Tuhannya. Tauhid, keyakinan, dan imannya
ini bekerja menggerakkan dia hingga mampu berbuat sesuatu. Tauhid yang
menggerakkan! Begitu saya mengistilahkan. Sekuriti ini mengenal Allah.
Dan dia baru sedikit mengenal Allah. Tapi lihatlah, ilmu yang sedikit
ini dipake sama dia, dan diyakini. Akhirnya? Jadi! Bekerja penuh buat
perubahan dirinya, buat perubahan hidupnya.

Subhaanallaah, masya Allah.

Dan lihat juga cerita ini, seribu kali si sekuriti ini berhasil keluar
sebagai pemenang, siapa kemudian yang mengikuti cerita ini? Kayaknya
kawan-kawan sepom bensinnya pun belum tentu ada yang mengikuti jejak
suksesnya si sekuriti ini. Barangkali cerita ini akan lebih dikenang
sebagai sebuah cerita manis saja. Setelah itu, kembali lagi pada
rutinitas dunia. Yah, barangkali tidak semua ditakdirkan menjadi
manusia-manusia pembelajar.
Pertanyaan ini juga layak juga diajukan kepada Peserta KuliahOnline yang
saat ini mengikuti esai ini? Apa yang ada di benak Saudara? Biasa
sajakah? Atau mau bertanya, siapa sekuriti ini yang dimaksud? Di mana
pom bensinnya? Bisa kah kita bertemu dengan orang aslinya? Berdoa saja.
Sebab kenyataannya juga buat saya tidak gampang menghadirkan testimoni
aslinya. Semua orang punya prinsip hidup yang berbeda. Di antara semua
peserta KuliahOnline saja ada yang insya Allah saya yakin mengalami
keajaiban-keajaiban dalam hidup ini. Sebagiannya memilih diam saja, dan
sebagiannya lagi memilih menceritakan ini kepada satu dua orang saja,
dan hanya orang-orang tertentu saja yang memilih untuk benar-benar
terbuka untuk dicontoh. Dan memang bukan apa-apa, ketika sudah
dipublish, memang tidak gampang buat seseorang menempatkan dirinya untuk
menjadi contoh.

Yang lebih penting buat kita sekarang ini, bagaimana kemudian kisah ini
mengisnpirasikan kita semua untuk kemudian sama-sama mencontoh saja
kisah ini. Kita ngebut sengebut2nya menuju Allah. Yang merasa dosanya
banyak, sudah, jangan terus-terusan meratapi dosanya. Kejar saja ampunan
Allah dengan memperbanyak taubat dan istighfar, lalu mengejarnya dengan
amal saleh. Persis seeperti yang kemaren-kemaren juga dijadikan
statement esai penutup.

Kepada Allah semua kebenaran dan niat dikembalikan. Salam saya buat
keluarga dan kawan-kawan di sekeliling saudara semua. Saya merapihkan
tulisan ini di halaman parkir rumah sakit Harapan Kita.. Masih di dalam
mobil. Sambil menunggu dunia terang. Insya Allah hari ini bayi saya,
Muhammad Yusuf al Haafidz akan pulang ke rumah untuk yang pertama
kalinya. Terima kasih banyak atas doa-doanya dan perhatiannya.
Mudah-mudahan allah membalas amal baik saudara semua.

Dari semalam saya tulis esai ini. Tapi rampungnya sedikit sedikit. Ini
juga tadinya bukan esai sekuriti ini yang mau saya jadikan tulisan. Tapi
ya Allah jugalah yang menggerakkan tangan ini menulis.

Semalam, file yang dibuka adalah tentang langkah konkrit untuk berubah.
Lalu saya lampirkan kalimat pendahuluan. Siapa sangka, kalimat
pendahuluan ini saja sudah 10 halaman, hampipr 11 halaman. Saya pikir,
esai ini saja sudah kepanjangan. Jadi, ya sampe ketemu dah di esai
berikutnya. Saya berhutang banyak kepada saudara semua.. Di antaranya,
saya jadi ikut belajar.

Semalam saya ikutan tarawih di pesantren Daarul Qur'an internasional.
Sebuah pesantren yang dikemas secara modern dan internasional. Tapi
tarawihnya dijejek 1 juz sekali tarawih. Masya Allah, semua yang
terlibat, terlihat menikmati. Ga makmumnya, ga imam-imamnya, ga para
tamu dan wali santri yang ikut. Semua menikmati. Jika ada di antara
peserta KuliahOnline yang pengen ikutan tarawih 1 juz ini, silahkan
datang saja langsung ya. Insya Allah saya usahakan ada. Sebab saya juga
kebagian menjadi salah satu imam jaganya. Ya, kondisi-kondisi begini
yang saya demen. Saya kurangin jadwal, tapi masih tetep bisa ngajar
lewat KuliahOnline ini. Dan saya masih sempet mengkader ustadz-ustadz
muda untuk diperjalankan ke seantero negeri. Sementara saya akhirnya
bisa mendampingi para santri dan guru-guru memimpin dan mengembangkan
pesantren Daarul Qur'an ini.

Ok, kelihatannya matahari sudah mulai kelihatan. Saya baru pulang juga
langsung dari TPI. Siaran langsung jam 5 ba'da shubuh tadi. Istri saya
meluncurnya dari rumah. Doakan keluarga kami ya. Saya juga tiada henti
mendoakan saudara dan jamaah semua... (Ust. YUSUF MANSUR).

My Regards, Dadan RamdaniPlease visit my Blog:
http://ramdani1428. wordpress. com/
and leave comment, thanks!
Smoga Allah senantiasa menyelimuti kita dengan keberkahan dan
kemuliaanNya

15 October 2008

Korban Chatting

Ini adalah kisah nyata, pelakunya menulis kepada temannya dan memintanya supaya dimuat di internet agar bisa dijadikan pelajaran berharga bagi setiap gadis yang menggunakan internet. Dan saya menceritakan kembali peristiwa yang mengharukan ini agar peristiwa yang dialami pelaku benar-benar dapat menjadi pelajaran berharga bagi siapapun yang membacanya. Berikut adalah kisahnya :
"Bismillahir rahmanir rahim. Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Sobatku yang mulia, setelah bismillah dan salam, tentu kamu tidak akan percaya terhadap apa yang telah terjadi pada diriku dan yang kulakukan dengan kesadaran penuh. Kamu satu-satunya orang di dunia ini yang mengetahui rahasiaku. Hanya satu keinginanku di dunia ini, yaitu ampunan dari Allah dan agar kematian menjemputku sebelum aku membunuh diriku. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan pada diriku sendiri. Keputusan telah menyelimutiku. Semua yang ada di depan mataku hanyalah kegelapan diatas kegelapan. Kamu akan membaca penderitaanku baris demi baris dan bisa jadi kamu membenciku. Aku memaklumi. Namun demikian aku berharap kamu mau memuat kisahku ini di internet supaya bisa menjadi pelajaran bagi wanita pengguna internet, khusunya chatting.
Tidak ada satu hari pun yang aku lewati kecuali dengan tangisan, hingga aku kehilangan penglihatan. Setiap hari aku berpikir untuk bunuh diri, berpuluh-puluh kali. Hidup tidak lagi penting bagiku. Setiap saat aku mendambakan kematian. Seandainya aku tidak dilahirkan. Seandainya aku tidak mengenal dunia ini. Seandainya aku tidak diciptakan. Apa yang aku lakukan? Aku sangat bingung. Semua yang ada pada diriku menjadi tanpa rasa dan warna. Aku telah kehilangan kekayaanku yang paling berharga. Dengan tanganku inilah aku membakar diriku dan keluargaku. Aku membakar rumahku, suamiku, dan anak-anakku. Tidak seorang pun mampu mengembalikan apa yang telah aku sia-siakan. Tidak seorang pun mampu membantuku untuk selama-lamanya. Perkara ini telah terjadi dan menjadi stempel hitam dalam sejarah hidupku. Aku menulis kisahku ini untukmu, agar kamu menyebarluaskannya, sehingga bisa menjadi tameng dan filter bagi setiap wanita yang memakai internet. Agar kalian orang-orang yang memiliki pandangan bisa mengambil pelajaran.
Suatu hari salah seorang temanku mengajakku ke rumahnya. Dia adalah salah satu pengguna aktif internet. Dia memicu keingintahuanku terhadap dunia ini. Dia mengajariku bagaimana menggunakan internet. Bagaimana aku membukanya dan mencari website-website yang baik dan buruk. Sesudah itu aku meminta suamiku untuk memasukkan internet ke dalam rumah. Dia melawan permintaanku dengan menolaknya mentah-mentah. Akan tetapi aku berhasil meyakinkannya, lebih-lebih aku merasa jenuh dan kesepian. Aku tinggal jauh dari keluarga dan teman-teman. Aku beralasan bahwa semua temanku menggunakan internet, lalu mengapa aku tidak? Dengannya aku bisa berbincang-bincang dengan teman-teman, paling tidak lebih murah daripada pulsa telepon. Kerna kasihan, suamiku menyetujui permintaanku. Benar, aku mulai berbincang-bincang dengan teman-temanku setiap hari. Sesudah itu suamiku tidak pernah mendengar keluhan dan permintaan apa pun dariku karena telah sibuk dengan permainan baruku. Begitu suamiku keluar rumah aku langsung melahap internet dengan rakus seperti orang gila. Berjam-jam lamanya aku menekuni internet tanpa aku bisa menyadarinya.
Aku sering berharap suamiku pergi, padahal sesaat setelah dia pergi aku pasti merindukannya. Aku mencintai suamiku dengan cinta yang sebenarnya. Dia selalu memeprhatikanku, walaupun kondisi ekonominya kurang bagus. Tanpa berlebih-lebihan dia ingin membahagianku dengan berbagai cara. Seiring berjalannya waktu, aku pun semakin bergantung kepada internet. Aku tidak lagi memikirkan yang lain. Aku lupa mengunjungi kedua orang tuaku, padahal aku selalu melakukannya setiap dua pekan sekali. Suamiku pulang aku selalu kelabakan. Aku langsung saja mematikan komputer. Dia pun merasa heran dengan kelakuanku, dia tidak curiga, bahkan dia ingin melihat apa yang aku lakukan dengan internet di waktu luangnya. Dia meledekku, dengan berkata, "Internet itu sangat luas manfaatnya." Dia mendorongku untuk mengerti istilah-istilah, membuat website yang bermanfaat untuk masyarakat dan bukan hanya membuang-buang waktu. Sesudah itu aku berusaha membuatnya merasa bahwa diriku serius. Aku ingin belajar dan mengambil manfaat serta tidak lagi chatting dengan teman-teman dan saudara-saudaraku.
Urusan anak aku pasrahkan kepada pembantu. Aku tahu kapan suamiku pulang, maka saat itu aku tidak menyalakan internet. Aku mulai melalaikan diriku. Sebelumnya ketika suamiku pulang aku selalu berpenampilan cantik dan berapkaian rapi. Namun setelah mengenal internet, hal itu sedikit demi sedikit aku lupakan. Hingga untuk selanjutnya hilang sama sekali. Aku mencari-cari alasan. Kukatakan bahwa dia tidak memberitahukan kepulangannya atau dia pulang lebih cepat dari biasanya. Hari-hari berlalu dan suamiku mengetahui bahwa apa yang aku lakukan di depan internet adalah membuang-buang waktu saja. Tapi dia tida terlalu mempedulikanku karena iba melihat kesendirianku dan jauhnya aku dari keluarga. Aku pun menggunakan kesempatan ini dengan baik. Setiap kali dia mencelaku karena keteledoranku mengurus anak-anak, maka aku berpura-pura menangis, air mata buaya, tipuan wanita.... begitu kata mereka. Beginilah kehidupan kami selama kurang lebih enam bulan. Tidak pernah tebayang di benak suamiku bahwa aku telah menggunakan internet dengan sangat buruk.
Di sela hari-hari itu aku menjalin hubungan dengan nama-nama samaran. Aku tidak tahu apakah pemiliknya laki-laki atau wanita. Aku melayani siapa pun yang mengajakku chatting, sekalipun dengan laki-laki. Aku meminta bantuan dari sebagian orang yag tahu tentang komputer dan internet. Dari mereka aku telah belajar banyak, kecuali satu orang. Aku memberikan perhatian lebih besar kepadanya, karena pengalamannya yang luas di bidang ini. Aku selalu berbincang dengannya tanpa beban. Aku bertanya banyak persoalan bahkan secara rutin. Aku menyukai pembicarannya. Komentarnya bisa menghiburku. Hubunganku dengannya semakin erat, hingga berjalan tiga bulan. Kami memiliki banyak kesamaan. Dia merayuku dengan ucapannya yang bermadu. Kata-kata cinta dan rindu yang mungkin tidak seindah kenyataan, akan tetapi setan menjadikannya indah di depan mataku.
Suatu hari dia ingin mendengar suaraku. Dia terus mendesakku. Dia mengancam akan meninggalkanku dan mengacuhkanku di chatting. Aku berusaha melawan permintaan ini, tetapi aku tidak mampu. Aku tidak tahu mengapa. Akhirnya aku menyetujui, tapi hanya satu kali saja. Dia mau menerimanya. Kami menggunakan program perbincagan lewat suara. Walaupun programnya kurang bagus, tetapi suaranya sangat bagus dan ucapannya sangat menyejukkan. Dia memberikan nomor teleponnya, lalu meminta nomor teleponku. Aku masih ragu. Aku belum berani berbincang dengannya untuk waktu yang lama. Aku tahu bahwa setan terkutuk selalu berada di sampingku, membuat semua itu indah di dalam diriku. Aku bergulat melawan sisa-sisa kebencian, agama dan akhlak yang kumiliki.
Hari itu aku mulai berani berbincang dengannya melalui telepon.... inilah awal penyimpangan dalam hidupku. Aku telah terseret terlalu jauh. Aku dan dia seperti penguasa dunia chatting. Masing-masing berusaha untuk semakin dekat dengan yang lain, dan memusuhi siapapun ang memusuhi dan iri kepada kami. Siapa saja yang membaca kata-kataku pasti akan merasa bahwa suamiku tidak mengurusiku atau sering tidak ada di rumah.
Padahal justru sebaliknya, suamiku hanya pergi bekerja dan jarang pergi ke rumah temannya demi diriku. Dengan berjalannya waktu dan dengan semakin menyatunya diriku dengan internet, dalam satu hari aku bisa menghabiskan antara delapan sampai dua belas jam di depannya. Aku semakin membenci kehadiran suamiku di rumah. Aku sering mencelanya karena itu. Benar, dia mendengar ucapanku dan mulai berbisnis kecil-kecilan dengan salah seorang temannya. Setelah itu waktu yang aku buang di depan internet jauh lebih banyak lagi. Walaupun suamiku mengeluh berkali-kali dari tagihan rekening telepon yang mencapai ribuan real, tetapi dia tetap saja tidak mau menghalangiku.
Hubunganku dengan laki-laki itu mulai berkembang. Setelah mendengar suaraku, dia ingin melihatku. Mungkin dia telap bosan dengan suaraku. Aku tidak terlalu memperhatikan atau berusaha untuk memutuskan hubungan dengannya. Aku hanya mencelanya karena itu, dan bisa jadi aku lebih penasaran untuk melihatnya dibanding dia kepadaku. Akan tetapi aku berusaha untuk menutupi hal itu. Bukan karena apa-apa. Aku hanya takut aib ini terbongkar, bukannya takut kepada Allah. Bertambah hari permintaanya semakin menggebu. Dia hanya ingin melihatku sekali saja, tidak lebih. Aku memenuhi permintaannya, dengan syarat ini adalah permintaan pertama dan terakhir darinya, dan dia hanya melihatku tanpa berbicara apapun. Aku yakin dia tidak pernah menduga kalau aku bakal meresponnya, setelah sebelumnya dia hampir putus asa menharap respon dariku.
Dia mengatakan kepadaku bahwa kebahagiaan menyelimuti dirinya. Dia khawatir kalau terjadi apa-apa denganku. Dia berjanji akan menjadi pelindungku dan tidak akan melakukan sesuatu yang aku benci. Dia menyetujui syaratku. Dia bersumpah ahnya satu kali, tidak lebih. Benar, aku meresponnya. Kami berjanji bertemu di sebuah tempat dan pihak ketiganya adalah setan. Dia melihatku dan aku pun melihatnya. (Seandainya aku tidak melihatnya dan dia tidak melihatku). Masing-masing ternyata ternyata saling mengagumi, walaupun hanya sesaat, tidak lebih dari satu menit saja. Suamiku tidak buruk, tidak pendek atau gendut, akan tetapi setan telah membuatku merasakan hal itu. Aku seakan tidak pernah melihat laki-laki dalam hidupku yang lebih tampan darinya. Dia juga berkata bahwa tidak percaya kalu dirinya selama ini ber –chatting dengan wanita sepertiku. Dia mengatakan bahwa kecantikanku telah menawannya. Dia telah tergila-gila kepadaku. Dia mengatakan bahwa dirinya akan bunuh diri jika harus kehilangan diriku. "Seandainya aku tidak melihatmu," Katanya. Aku semakin besar kepala. Aku melihat diriku jauh lebih cantik dari sebelumnya, bahkan sebelum aku menikah.
Ini adalah awal dari segala-galanya, wahai saudari-saudariku. Dia belum mengetahui kalau aku adalah seorang istri sekaligus ibu. Dia belum mengetahui bagaimana memanfaatkan kelemahanku sebagai wanita. Setan membantunya, bahkan mungkin menggiringnya. Sesudah itu aku ingin melihatku untuk kedua kalinya. Aku menolaknya dengan berbagai alasan. Aku mengingatkan dengan janjinya, untuk hanya melihatku satu kali saja. Bahkan aku berterus terang akalu diriku telah menikah, tidak mungkin melihatnya, dan hubungan ini hendaknya sebatas di internet saja. Dia tidak percaya dan berkata "Tidak mungkin kamu telah menikah dan mempunyai anak." Dia juga mengatakan, "Kamu seperti bidadari yang harus dilindungi... Kamu seperti malaikat yang semestinya tidak boleh dijamah." Begitulah, aku jadi tergila-gila mendengar suara dan sanjungannya. Akhirnya aku membenci suamiku yang tidak kenal istirahat demi membahagiakan kami dan memenuhi kebutuhan kami. Jika temaku itu tidak hadir satu atau dua hari, maka aku merasa pusing karenanya.
Aku cemburu jika dia berbicara atau diajak bicara oleh seseorang di chatting. Aku tidak tahu apa yang menimpaku. Aku hanya menginginkannya, lebih dan lebih. Dia merasakan itu dan mengetahui bagaimana memanfaatkanku sampai akhirnya dia berhasil melihatku kembali. Setiap hari dia ingin melihatku, sementara aku berdalih bahwa aku telah menikah. Dia berkata, "Apa yang bisa kita lakukan?"
Apakah kita begini terus lalu mati karena kesedihan?"
Mungkinkah kita bisa saling mencintai, sementara untuk saling mendekati saja tidak bisa? Harus ada jalan keluar. Kita harus berkumpul. Kita harus berada di bawah satu atap."
Tidak ada suatu cara kecuali dia pasti menggunakannya dan aku pun menolak dan terus menolak. Hingga tibalah ahri itu ketika dia mengatakan ingin menikahiku. Dia memintaku bercerai dari suamiku, agar dia bisa menikah denganku. Jika aku menolaknya maka mungkin dia mati atau gila atau membunuh suamiku. Sebenarnya –walaupun aku sangat taku- aku pun mendapatkan sesuatu di dalam diriku yang mendorongku kepadanya. Pemikiran itu menarik bagiku. Setiap kali dia berbicara denganku aku menggigil. Gigiku terkatup kuat seolah-olah melawan rasa dingin dalam jiwaku. Aku sering bingung. Aku sekarang merasa sebagai tawanan suamiku. Cintaku kepada suamiku bukanlah cinta. Aku mulai membenci tampangnya dan dirinya. Aku telah lupa kepada diriku sendiri dan anak-anakku. Aku membenci suamiku dan hidupku. Sepertinya aku lah satu-satunya wanita yang hidup di dunia ini. Aku mengenal cinta.
Ketika dia mengetahui dengan pasti kadar cintaku kepadanya dan bahwa ia telah menguasai diriku dan perasaanku, maka dia menawarkan kepadaku untuk mencari-cari masalah dengan suamiku lalu membesar-besarkannya, hingga dia mau menceraikanku. Tawarannya ini tidak terlintas di benakku. Sepertinya ini memang satu-satunya jalan keluar bagi problem khayalanku. Dia berjanji akan menikahiku setelah aku bercerai dari suamiku. Dia akan menjadi apapun dalam hidupku dan menjadikanku bahagia sepanjang hayatku. Aku memang tidak mudah begitu saja mempercayai ucapannya, akan tetapi janji nikah yang diucapkannya terus terngiang di dalam benakku. Benar, aku mulai sengaja membuat-buat masalah dengan suamiku setiap hari, hingga aku bisa membuatnya membenciku lalu menceraikanku. Suamiku tidak tahan dengan masalah-masalah sepele ayng aku sulap menjadi masalah paling besar di muka bumi. Suamiku mulai keluar rumah untuk waktu yang lama. Pulang hanya untuk tidur saja. Kami menjalani kehidupan seperti ini selama beberapa minggu dan aku masih terus sengaja membuat masalah. Bahkan masalah itu sudah aku rekayasa sebelumnya.
Adapun laki-laki itu, maka dia mengaku telah bosan menunggu. Dia ngotot ingin melihatku, karena suamiku mungkin tidak menceraikanku secepat itu. Dia ingin melihatku, jika tidak? Pada waktu itu aku menyetujui tanpa ragu sedikit pun. Seeprtinya iblis telah menjelma menjadi diriku dan mengambil keputusan atas namaku. Aku meminta waktu untuk mengatur strategi. Pada hari Rabu, 12 Muharram 1421 H, suamiku memberitahuku bahwa dia akan keluar kota selama 5 hari untuk tugas kantor. Aku merasa inilah peluang emas. Suamiku ingin memulangkanku ke rumah orang tuaku, agar aku bisa beristirahat dari problem-problem ( yang aku rekayasa). Kali ni aku tampak seolah-olah tidak tertekan oleh problem-problem itu. Maka aku menolak pulang ke rumah orang tuaku dengan berbagai alasan. Yang penting aku akan tetap dirumah suamiku. Terpaksa dia menyetujui, dan dia pun pergi pada hari Jum'at. Aku bangun dari tidur, aku membuka chatting dan menutupnya kembali untuk tidur.
Hari Ahad adalah ahri yang telah kami sepakati untuk bertemu. Aku mengontak laki-laki teman chatting-ku itu. Aku katakan bahwa aku siap untuk keluar bersamanya. Aku menyadari bahayaapa ayng timbul dari perbuatanku ini. Akan tetapi urusannya terasa lancar-lancar saja, tanpa sedikitpun ada rasa takut dan khawatir seperti pertama kali aku melihatnya.
Aku keluar bersamanya. Aku telah menjual diriku. Aku keluar bersamanya, karena terdorong keinginan untuk lebih mengenalnya dari dekat. Kami sepakat dan dia datang tepat waktu. Aku masuk mobilnya, kemudian melaju membelah jalanan. Aku tidak merasakan apa-apa, juga tidak merasa nyaman. Inilah pertama kali aku berada dalam satu mobil dengan seorang laki-laki yang tidak ada hubungan apapun denganku. Hanya perkenalan selama tujuh bulan ( itupun lewat dunia maya ). Dia juga tampat tidak nyaman sepertiku. Aku memulai pembicaraan, "Aku tidak bisa keluar lama, aku khawatir suamiku menghubungiku atau terjadi sesuatu." Dengan sedikit ragu dia menjawab, "Jika dia mengetahui, maka dia akan menceraikanmu dan kamu terbebeas darinya." Jawaban dan tekanan suaranya tidak menarik hatiku. Kecemasanku semakin bertambah. Kemudian aku berkata kepadanya, "Kita jangan pergi jauh-jauh, aku tidak mau pulang terlambat." Dia menjawab, "Kamu akan pulang sedikit terlambat, karena aku tidak mungkin dengan mudah melepaskanmu. Aku ingin membuat kedua mataku ini bosan darimu. Karena bisa saja setelah ini aku tidak memiliki kesempatan lagi untuk melihatmu." Begitulah dia berbciara. Kemudian dia mengambil arah Romansia. Aku tidak tau berapa lama kami berada dalam situasi demikian, samapi tidak mengenal jalan dia lalui. Tiba-tiba aku berada di tempat yang asing. Gelap, seperti tempat peritirahatan atau kebun. Aku mulai berteriak, "Tempat apa ini? Ke mana kamu membawaku?"
Hanya beberapa detik, mobil itu pun berhenti. Seorang laki-laki membuka pintu di sampingku dan menarikku keluar dari mobil dengan kuat. Semuanya seperti halilintar. Aku menangis, berteriak dan meminta belas kasihan mereka. Aku tidak mengerti apa yang mereka katakan. Aku tidak mengerti apa yang terjadi di sekelilinku. Aku merasa sebuah telapak tangan mampir di wajahku dengan keras dan kudengar suara teriakan. Dia menggoncangku dengan sangat kuat. Aku kehilangan kesadaran sesudahnya karena ketakutan yang mendalam. Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan kepadaku, siapa mereka dan berapa orang ?
Aku hanya melihat dua orang. Semuanya serba cepat, secepat kilat. Aku tidak tahu diriku lagi kecuali ketika aku terlentang di sebuah ruangan dalam keadaan setengah telanjang. Pakaianku terkoyak. Aku berteriak, menangis dengan tubuh yang kotor. Beberapa detik kemudia seorang serigala masuk sambil tertawa. Aku memohon kepadanya, "Demi Allah, lepaskanlah aku, lepaskanlah aku. Aku ingin pulang." Dia menjawab, "Kamu akan pulang, tapi kamu harus berjanji untuk tidak menceriatak hal ini kepada siapapun. Jika tidak, maka kamu akan jadi aib besar bagi keluargamu. Dan jika kamu memberitahukan siapa aku atau kamu melapor, maka balasannya akan menimpa anak-anakmu." Aku berkata,"Aku hanya ingin pulang dan tidak akan memberitahukan hal ini kepada siapa pun." Aku sangat takut. Tubuhku menggigil dan aku terus mengangis. Inilah yang aku ingat dari peristiwa itu.
Aku tidak tahu apa-apa lagi kecuali rentang waktu yang kau butuhkan sejak keluar dan kembali, yaitu kurang lebih empat jam. Mereka menutup kedua mata-ku dan membawaku ke mobil. Mereka membuangku di dekat rumahku. Dalam kondisi itu..... untung tidak ada yang melihatku. Dengan cepat aku masuk ke dalam rumah. Aku menangis dan menangis samapai kering air mata ini. Sesudah itu aku menyadari kalau mereka telah memperkosaku karena pendarahan yang terjadi padaku. Aku masih belum bisa percaya dengan apa yang menimpaku. Aku tidak pernah keluar kamar. Tidak bisa melihat anak-anakku. Dan tidak ada satu suapan pun yang masuk ke dalam mulutku. Alangkah celakanya diriku. Sungguh, aku telah pergi ke Neraka dengan kedua kakiku sendiri. Bagaimana keadaanku setelah peristiwa ini? Membenci diriku dan mencoba bunuh diri. Aku takut aib ini terbongkar. Aku takut menghadapi sikap suamiku.
Jangan menanyakan anak-anakku. Sejak peristiwa itu, aku tidak lagi mengenal mereka. Aku tidak merasakan keberadaan mereka, juga orang-orang di sekelilingku. Ketika suamiku pulang, dia merasakan perubahan yag tidak pernah dia dapatkan sebelumnya. Kondisiku memburuk. Dengan cepat dia membawaku ke rumah sakit. Alhamdulillah mereka tidak memeriksa diriku secara detail. Mereka menyatakan bahwa kondisiku lemah akibat asupan makanan yang kurang. Tidak lebih. Aku meminta suamiku untuk memulangkanku ke rumah orang tuaku secepat mugkin. Aku sering menangis, sementara keluargaku tidak mengerti apapun. Mereka hanya mengira telah terjadi masalah antara diriku dan suamiku. Aku lihat ayahku berbicaara dengan suamiku. Dia tidak mendapatkan hasil apa-apa. Tidak seorang pun mengetahui apa yang menimpaku. Bahkan keluargaku membawaku kepada sebagian orang pintar untuk di-ruqyah, karena mereka mengira aku diganggu oleh makhluk halus. Aku tidak pantas mendampingi suamiku. Sering aku meminta talak kepadanya. Kalau dulu aku memintanya untuk diriku, akan tetapi sekarang aku memintanya demi suamiku, ayahku dan anak-anakku. Aku tidak pantas hidup di kalangan orang-orang yang baik. Semua yang terjadi pada diriku disebabkan oleh diriku sendiri.
Dengan kedua tanganku sendiri aku telah menggali kubur untuk diriku sendiri. Dan laki-laki teman chatting-ku itu hanyalah pemburu wanita yang masuk ke dunia ini. Semua yang membaca kisah ini pasti akan mengatakan diriku bodoh dan dungu. Aku berharap apa ayng menimpaku ini tidak menimpa orang lain. Aku berharap suamiku yang tidak tahu apa-apa mau memaafkanku. Begitu pula anak-anakku. Akulah biang kerok-nya. Akulah penyebabnya. Kepada Allah aku memohon agar mengampuni dosaku dan memaafkan kesalahan-ku."
"Sekarang, setelah kamu membaca kisah temanku ini, kata wanita yang menyebarluaskan kisah ini, "sudah saatnya bagi para gadis, para pengguna chatting dan para pemuda pemburu kenikmatan agar takut kepada Allah terhadap diri mereka dan keluarga mereka. Bukan kesalahan internet, akan tetapi kitalah yang tidak menggunakannya dengan baik. Kitalah yang membuang kebaikan dan manfaat besar, mencari keburukan dan apa yang tidak layak bagi akhlak seorang muslim. Semua keburukan terletak pada kekosongan yang tidak kita gunakan dengan baik, dan hasilnya adalah malapetaka. Hasbunallahu wanikmal wakil.
Terakhir aku katakan, "Temanku ini telah wafat beberapa minggu yang lalu. Dia meninggal dengan rahasianya yang terbawa bersamanya. Suaminya tidak menceraikannya. Aku tahu dia sangat sedih sekali. Aku tahu dia mengundurkan diri dari pekerjaannya demi mendampingi anak-anaknya. Sesudah itu aku merasa bahwa hidup ini tidaklah berharga. Tidak ada rasanya, kecuali bagi siapa yang mengembangkannya dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya."
Sumber = Hiwar Hadi' Ma'a Ukhti Al-Muslimah, hlm. 62-73.


Penulis berharap bagi siapa saja yang telah membaca kisah ini untuk mendoakan korban agar ia mendapat tempat yang baik di sisi Allah SWT. Semoga pembaca sekalian dapat mengambil hikmah dan semoga peristiwa seperti yang telah diceritakan korban diatas tidak lagi di alami oleh gadis-gadis atau wanita yang lain. (SEMOGA KALIAN SEMUA BERADA DALAM LINDUNGANNYA).

12 October 2008

Mengkaji Ulang MLM



E-mail
Ditulis oleh Irfan Syauqi Beik, Msc

Akhir-akhir ini kita menyaksikan sebuah fenomena maraknya para aktivis dakwah terlibat dalam upaya mengembangkan bisnis secara mandiri sebagai lahan penghidupan mereka. Tentu saja ini adalah sebuah fenomena yang sangat menarik dan patut kita syukuri, apalagi hal tersebut dikembangkan di tengah-tengah kondisi masyarakat yang tengah terpuruk di segala bidang kehidupan, termasuk ekonomi.

Berbisnis merupakan aktivitas yang sangat dianjurkan dalam ajaran Islam. Bahkan, Rasulullah SAW sendiri pun telah menyatakan bahwa 9 dari 10 pintu rezeki adalah melalui pintu berdagang (al-hadits). Artinya, melalui jalan perdagangan inilah, pintu-pintu rezeki akan dapat dibuka sehingga karunia Allah terpancar daripadanya. Jual beli merupakan sesuatu yang diperbolehkan (QS 2 : 275), dengan catatan selama dilakukan dengan benar sesuai dengan tuntunan ajaran Islam.

Salah satu pola bisnis yang saat ini sangat marak dilakukan adalah bisnis dengan sistem MLM (Multi Level Marketing). Pada dasarnya, berbisnis dengan metode ini boleh-boleh saja, karena hukum asal mu’amalah itu adalah al-ibaahah (boleh) selama tidak ada dalil yang melarangnya. Meski demikian, bukan berarti tidak ada rambu-rambu yang mengaturnya. Penulis melihat bahwa pada prakteknya masih sering terdapat berbagai penyimpangan dari aturan syariah, sehingga adalah tugas kita bersama untuk meluruskannya.

Kejelasan Akad

Berbicara mengenai masalah mu’amalah, maka ajaran Islam sangat menekankan pentingnya peranan akad dalam menentukan sah tidaknya suatu perjanjian bisnis. Yang membedakan ada tidaknya unsur riba dan gharar dalam sebuah transaksi adalah terletak pada akadnya. Sebagai contoh adalah akad murabahah dan pinjaman bunga dalam bank konvensional. Secara hitungan matematis, boleh jadi keduanya sama. Misalnya, seseorang membutuhkan sebuah barang dengan harga pokok Rp 1000. Jika ia pergi ke bank syariah dan setuju untuk mendapatkan pembiayaan dengan pola murabahah, dengan marjin profit yang disepakatinya 10 %, maka secara matematis, kewajiban orang tersebut adalah sebesar Rp 1100. Jika ia memilih bank konvensional, yang menawarkan pinjaman dengan bunga sebesar 10 %, maka kewajiban yang harus ia penuhi juga sebesar Rp 1100. Namun demikian, transaksi yang pertama (murabahah) adalah halal, sedangkan yang kedua adalah haram. Perbedaannya adalah terletak pada faktor akad.

Bisnis MLM yang sesuai syariah adalah yang memiliki kejelasan akad. Jika akadnya murabahah, maka harus jelas barang apa yang diperjualbelikan dan berapa marjin profit yang disepakati. Jika akadnya mudarabah, maka harus jelas jenis usahanya, siapa yang bertindak sebagai rabbul maal (pemilik modal) dan mudarib-nya (pengelola usaha), serta bagaimana rasio bagi hasilnya. Jika akadnya adalah musyarakah, maka harus jelas jenis usahanya, berapa kontribusi masing-masing pihak, berapa rasio berbagi keuntungan dan kerugiannya, dan bagaimana kontribusi terhadap aspek manajemennya. Jika akadnya ijarah, maka barang apa yang disewakannya, berapa lama masa sewanya, berapa biaya sewanya, dan bagaimana perjanjiannya. Kalau akadnya adalah akad wadi’ah atau titipan, maka tidak boleh ada tambahan keuntungan berapapun besarnya. Demikian pula kalau bisnis tersebut dikaitkan sebagai sarana tolong menolong dengan mekanisme infak dan shadaqah sebagai medianya, maka embel-embel pemberian royalti harus dihindari. Dan masih banyak contoh-contoh lainnya. Bisnis MLM yang akadnya tidak jelas dan semata-mata hanya memanfaatkan networking, merupakan salah satu bentuk money game yang dilarang oleh ajaran Islam.

Logika bisnis riil

Aspek lain yang perlu diperhatikan adalah logika bisnis riil. Apakah mungkin suatu usaha bisnis riil dapat menjanjikan keuntungan berlipat-lipat, bahkan hingga ribuan persen, dalam waktu yang sangat singkat? Ini adalah sesuatu yang tidak mungkin. Biasanya profit semacam itu hanya dihasilkan dari aktivitas spekulasi di pasar uang dan pasar modal konvensional, dengan instrumen bunga dan gharar yang sangat kental.

Menjanjikan keuntungan berlipat-lipat di awal sesungguhnya merupakan penyebab hilangnya etos kerja. Hal ini akibat adanya mimpi untuk menjadi kaya dalam waktu yang sangat singkat. Tentu saja, hal tersebut bertentangan dengan sunnatullah dan ajaran Islam yang menekankan pentingnya usaha yang sungguh-sungguh dan maksimal di dalam mencari rezeki. Karena itulah, penulis mengajak kita semua untuk bersama-sama meluruskan kembali aktivitas bisnis kita agar senantiasa selaras dengan tuntunan ajaran Islam, sehingga hidup kita pun menjadi semakin berkah. Wallahu’alam.

* Penulis adalah Anggota Dewan Asatidz PV dan Dosen FEM IPB dan Kandidat Doktor IIU Malaysia