Ga perlu diceritain, semuanya pasti dah mengetahui sosok sang Jenderal Besar ini.
Dengan satu paru-paru saja yg berfungsi, beliau memimpin perang Gerilya melawan Belanda dan Inggris. Panglima menolak tawaran perundingan karena kurang berguna dan berdampak bagi kemerdekaan absolut Indonesia.
Walaupun harus ditandu, beliau memimpin perjuangan yg banyak dipusatkan dihutan-hutan.
Suatu ketika Panglima sedang dikepung oleh Tentara Belanda yg mencarinya dengan membayar seorang pengkhianat internal tentara Indonesia, seketika Panglima memerintahkan prajuritnya mengubah cara berpakaian dengan peci dan sarung, dan berpura-pura mengadakan pengajian.
Tentara Belanda yg tidak tahu wajah Panglima, menembak si pengkhianat karena dianggap berbohong dengan menunjukkan orang yg salah. Padahal yg ditunjuk itulah sang Panglima Besar Soedirman.
Beliau sangat patuh pada Presiden Soekarno, bahkan sambil mengepalkan tinjunya ia berkata "Kami akan peringatkan kepada Belanda, kalau Belanda menyakiti Sukarno, bagi mereka tak ada ampun lagi. Belanda akan mengalami pembunuhan besar-besaran.”
Kesatria Padang Pasir - Salahuddin al Ayubi
Ada dua kesan yang menyebabkan Salahuddin dipandang sebagai kesatria sejati, baik oleh kawan maupun lawan. Pertama adalah soal kepiawaiannya dalam taktik pertempuran. Kedua tentang kesalehan dan kemurah hatiannya.
Bulan Juli 1192, sepasukan muslim menggerebek 12 tenda prajurit kristen, termasuk tenda kerajaan Raja Richard I, di luar benteng kota Jaffa. Richard yang terusik segera bangun dan bersiap bertempur. Pasukannya kalah jumlah, 1:4. Tak peduli, Richard berjalan kaki mengikuti pasukannya menyongsong musuh.
Alexander The Great
Alexander dilahirkan pada tanggal 20 Juni 356 SM di Pella, ibu kota Makedonia, sebagai anak dari Raja Makedonia, Fillipus II, dan istrinya Olympias, seorang Putri dari Epirus. Ketika kecil, ia menyaksikan bagaimana ayahnya memperkuat pasukan Makedonia dan memenangkan berbagai pertempuran di wilayah Balkan. Ketika berumur 13 tahun, Raja Filipus mempekerjakan filsuf Yunani terkenal, Aristoteles, untuk menjadi guru pribadi bagi Alexander. Dalam tiga tahun, Aristoteles mengajarkan berbagai hal serta mendorong Alexander untuk mencintai ilmu pengetahuan, kedokteran, dan filosofi. Pada tahun 340 SM, Filipus mengumpulkan sepasukan besar tentara Makedonia dan menyerang Byzantium. Selama penyerangan itu, ia memberikan kekuasaan sementara kepada Alexander yang ketika itu berumur 16 tahun, untuk memimpin Macedonia.
Raja Phillip II meninggal tahun 336 SM oleh pembunuh gelap pada saat pernikahan putrinya. Alexander pun naik tahta menggantikan ayahnya pada usia 20 tahun. Sesaat setelah kematian Phillip, kota-kota di Yunani yang sebelumnya telah tunduk pada Makedonia seperti Athena dan Thebes memberontak. Alexander segera bertindak dan berhasil menggagalkan pemberontakan tersebut. Namun, tahun beikutnya terjadi pemberontakan kembali, dia memutuskan untuk bertindak tegas dengan mengahancurkan Thebes dan menjual seluruh penduduknya sebagai budak. Kejadian ini berhasil memadamkan keinginan kota-kota lain untuk memberontak.
Walaupun hanya memerintah selama 13 tahun, semasa kepemimpinannya ia mampu membangun sebuah imperium yang lebih besar dari setiap imperium yang pernah ada sebelumnya. Pada saat ia meninggal, luas wilayah yang diperintah Alexander berukuran 50 kali lebih besar daripada yang diwariskan kepadanya serta mencakup tiga benua (Eropa, Afrika, dan Asia).
Gelar The Great atau Agung di belakang namanya diberikan karena kehebatannya sebagai seorang raja dan pemimpin perang lain serta keberhasilanya menaklukkan wilayah yang sangat luas hanya dalam waktu 10 tahun.
General George Smith Patton Jr. (11 November 1885 – 21 Desember 1945)
Seorang jenderal Angkatan Darat Amerika Serikat pada Perang Dunia II. Dalam 36 tahun karirnya di angkatan darat, Ia menjadi Kadet Ajudan di West Point, menjadi juara lima Modern Pentathlon pada Olimpiade 1912 di Swedia, lulus Sekolah Kavaleri di Perancis pada 1912 dan 1913, dijadwalkan untuk ikut dalam Olimpiade 1916 yang seharusnya diadakan di Berlin, menjadi pendukung peperangan lapis baja, dan mengkomandani pasukan di Afrika Utara, Sisilia, dan Eropa. Patton terkenal sebagai pejuang murni yang tak kenal ampun dan ganas, dan diberi julukan "Old Blood and Guts" (Darah dan Jeroan Tua), nama yang muncul setelah seorang wartawan salah mengutip dia mengatakan "it takes blood and brains to win a war". Sejarah mencatatnya sebagai pemimpin militer yang brilian, yang juga sering tidak patuh dan terkadang tidak stabil.
Heinz Wilhelm Guderian
Bapak Perang Tank
Heinz Wilhelm Guderian dikenal sebagai pionir dari perang lapis baja. Namun siapa sangka, pria kelahiran Prussia ini memulai perjalanan karir militernya justru sebagai projurit infanteri bukan dari unit lapis baja.
Banyak tokoh-tokoh militer semasa PD II merupakan veteran prajurit semasa PD I. Salah satu di antaranya adalah Heinz Wilhelm Guderian. Guderian, begitu biasa disebut, memulai kehidupan militernya dalam unit komunikasi pasukan Jerman selama PD I. Hal ini pula yang lantas menyadarkannya betapa penting unsur komunikasi dalam memenangkan sebuahpertempuran. Ketika pertempuran di Verdun pecah 1916, Guderian masuk sebagai staf di satuan Crown Prince. Pertempuran ini membawa hikmah tersendiri. Baginya pertempuran darat di masa mendatang bakal digelar dengan cara lain. Bukan lagi dalam bentuk perang parit.
Erwin Rommel
Lahir di Heidenheim, sekitar Ulm Jerman, Erwin Rommel bukan keturunan militer. Ia berasal dari rakyat sipil kalangan menengah. Perjalanan militernya dimulai saat Rommel mendaftar sebagai kadet pada sekolah infanteri di Danzig (Danzig Infan School) pada tahun 1910.
Dua tahun kemudian Ia ditempatkan dalam unit operasional dengan pangkat letnan. Seperti umumnya perwira-perwira muda jaman itu, Letnan Erwin Rommel juga ikut terlibat dalam PD I. Antara tahun is ditempatkan di Perancis dan dianugerahi medali Iron Cross kelas satu. Prestasi yang lumayan menyolok justru diperlihatkan menjelang akhir PD I di Italia. Kala itu la berhasil memimpin kompinya merebut posisi yang diduduki musuh dan menawan personel plus 80 pucuk beragam persenjataan. Atas keberaniannya pemerintah Jerman kembali memberi bintang jasa yaitu Sebuah penghargaan tertinggi
Georgy Konstantinovich Zhukov
Hero of Soviet Union
Menyebut daftar komandan perang terbesar sepanjang masa tentu kita tidak akan melupakan name Georgy Konstantinovich Zhukov. Pria yang hidup antara 1896 hingga1974 ini populer dalam PD II.
Lahir dari keluarga petani miskin dengan latar belakang kehidupan pahit yang dijalaninya, menjadikan Zhukov sosok yang tangguh dan tidak gampang menyerah. Zhukov memperoleh berbagai penghargaan dari pemerintah Soviet sebagai Hero of Soviet Union bahkan melebihi Pemimpin Soviet Me itu. Zhukov juga dikenal sebagai ahli perang tank Soviet
Zhukov masuk dinas militer Tentara Kerajaan Rusia melalui dinas wajib militer di Divisi Kavaleri pada usia 19 tahun. Saat itu tahun 1915 dan dunia tengah masuk dalam kancah PD I. Dalam perang ini Zhukov mendapat dua kali penghargaan Salib Santo George dan dipromosikan pada jabatan opsir nonkomisioner berkat keberaniannya di medan perang.
Antara tahun 1920-1930, Zhukov melaksanakan penugasan militer sebagai wakil Soviet dalam pengawasan perang sipil di negeri itu. la menjadi komandan reimen tahun 1923 dan meningkat lagi dengan menjadi komandan brigade di tahun 1930. Ketertarikannya dalam strategi perang khususnya menyangkut pertempuran tank (armoured warfare) mendorongnya untuk terns memperdalam ilmu dan menjadikannya seorang komandan
Ketika peristiwa Great Purge atau pembantaian besar-besaran di kalangan Tentara Merah (Red Army) tahun 1938-1939, Zhukov selamat. Ia bahkan kemudian mendapat kepercayaan menjadi komandan pasukan Soviet-Mongolia pertama. Pasukannya bertempur melawan Tentara Kwantung, Jepang di perbatasan Mongolia dengan yang dikuasai negeri sakura. Pasukan yang harus dihadapi Zhukov tidak main-main karena Jepang mengerahkan 80.000 prajurit berikut 180 kendaraan lapis baja dan 450 pesawat tempur.
Sumber :